SMP NEGERI 1 KALIBAWANG

Pantog Wetan, Banjaroya, Kalibawang, Kulon Progo Yogyakarta

TERDEPAN DALAM ILMU TERPUJI DALAM LAKU

Lomba Kemataraman SMP N 1 Kalibawang : Usaha Menumbuhkan Cinta Budaya Jawa

Jum'at, 14 Desember 2018 ~ Oleh Admin ~ Dilihat 780 Kali

Pendidikan  karakter bangsa  berbasis budaya sudah menjadi komitmen semua civitas akademik di SMPN 1 Kalibawang.  Hal ini selaras dengan Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang telah dicanangkan oleh pemerintah baik pusat maupun daerah yang merupakan bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM). Sekolah tidak hanya betujuan untuk peningkatan prestasi akademik semata, tetapi juga  bertanggung jawab dalam pembentukan etika yang baik serta etika yang menjunjung budaya lokal, khususnya budaya Jawa.

Pengenalan budaya lokal (budaya Jawa), tidak hanya diberikan melalui mata pelajaran   maupun melalui kegiatan ekstrakurikuler, tetapi juga dapat dikemas menjadi kegiatan yang lebih “menantang” , “lebih greget,”  lebih kreatif  serta  lebih kompetitif,  yaitu  berupa kegiatan lomba.  Momentum perayaan hari Kartini untuk tahun 2018 ini dimanfaatkan untuk kegiatan lomba kemataraman dan budaya Jawa .

Lomba kemataraman  antarkelas  yang dilaksanakan di SMPN 1 Kalibawang meliputi

  1. Lomba menulis geguritan = setiap kelas diwakili oleh satu siswa putra dan satu siswa putri
  2. Lomba membaca geguritan = setiap kelas diwakili oleh satu siswa putra dan satu siswa putri
  3. Lomba tembang dolanan anak = setiap kelas diwakili satu regu (minimal 5 siswa putra/putri)
  4. Lomba keluwesan = setiap kelas diwakili oleh satu siswa putra dan satu siswa putri yang menggunakan pakaian adat Jawa
  5. Lomba Egrang = setiap kelas diwakili oleh satu siswa putra

Melalui menulis geguritan,  diharapkan dapat meningkatkan kreatifitas dan menambah kosakata bahasa Jawa. Melalui membaca geguritan selain menambah kosakata Jawa juga untuk pembelajaran budi pekerti melalui pemahaman isinya.

Untuk tembang dolanan anak yang diikuti secara beregu selain untuk memperkenalkan tembang-tembang dolanan yang sudah mulai terlupakan karena jarang terdengar, juga diharapkan dapat meningkatkan rasa kebersaman antarsiswa.

Lomba keluwesan yang diikuti oleh 11 pasang siswa ini diharapkan juga dapat menumbuhkan kecintaan terhadap pakaian adat daerah, khusunya Jawa yang sebenarnya sangat indah, elegan serta memiliki makna filosofi yang sangat tinggi. Keanggunan siswa putri serta kegagahan dan kearifan siswa putra jelas terpancar dari busana yang mereka kenakan.

Pendidikan karakter yang bermakna menurut Bapak Pendidikan Nasional kita, Ki Hajar Dewantara, selain melibatkan olah pikir, olah rasa, juga olah raga. Bentuk lomba yang berupa olah raga yang dilaksanakan adalah permainan tradisional egrang. Lomba egrang yang diperuntukkan bagi siswa putra ini selain untuk meningkatkan kekuatan fisik, latihan keseimbangan juga untuk mempromosikan kembali permainan tradisional yang sudah hampir musnah tergusur oleh permainan modern.

Keikutsertaan seluruh siswa dari Kelas VII, kelas VIII, dan Kelas IX yang keseluruhannya berjumlah 11 kelas merupakan wujud kecintaan mereka terhadap budaya lokal khususnya budaya Jawa di kalangan para siswa. Partisipasi mereka merupakan wujud nyata adanya kesadaran untuk mencintai, menghargai, dan melestarikan budaya Jawa agar tidak musnah di negeri sendiri.  Antusias siswa, sorak sorai dan kegembiraan  mereka dalam mengikuti seluruh kegiatan lomba merupakan wujud nyata adanya kesadaran bahwa budaya lokal yang hampir dilupakan tersebut sesungguhnya merupakan budaya adi luhung  yang tak pantas mereka tinggalkan. Pendidikan  merupakan tranformasi budaya dan usaha preventif untuk mencegah lunturnya budaya nasional di kalangan siswa Indonesia. Semoga. (*Ning’2018)

  1. TULISAN TERKAIT