SMP NEGERI 1 KALIBAWANG

Pantog Wetan, Banjaroya, Kalibawang, Kulon Progo Yogyakarta

TERDEPAN DALAM ILMU TERPUJI DALAM LAKU

Tidak Semua yang Dapat Dihitung Itu Bermakna: Implementasi Pembelajaran Mendalam Berkesadaran, Bermakna, dan Menggembirakan di Kelas

Senin, 16 Februari 2026 ~ Oleh Admin ~ Dilihat 22 Kali

Abstrak

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan transformasi praktik pembelajaran dari orientasi kuantitatif menuju pendekatan Pembelajaran Mendalam yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Menggunakan pendekatan kualitatif reflektif berbasis praktik (reflective practice), data dikumpulkan melalui observasi kelas, jurnal refleksi guru, dokumentasi asesmen, dan umpan balik siswa. Analisis tematik menunjukkan bahwa integrasi kesadaran belajar, konteks bermakna, dan iklim kelas positif meningkatkan keterlibatan serta kedalaman pemahaman siswa. Temuan ini memperkuat pentingnya keseimbangan antara asesmen kuantitatif dan kualitatif dalam meningkatkan mutu pembelajaran.

Kata kunci: pembelajaran mendalam, reflective practice, asesmen formatif, keterlibatan siswa, iklim kelas.

 

A. Pendahuluan

Pengukuran hasil belajar dalam pendidikan formal umumnya didominasi oleh indikator kuantitatif seperti nilai tes, rerata kelas, dan persentase ketuntasan. Meskipun indikator tersebut penting dalam sistem akuntabilitas pendidikan, pendekatan yang terlalu berorientasi angka berpotensi menyederhanakan kompleksitas proses belajar.

Sejumlah kajian menunjukkan bahwa kualitas pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh hasil kognitif, tetapi juga oleh keterlibatan, motivasi intrinsik, dan kemampuan metakognitif siswa. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang memandang pembelajaran secara lebih komprehensif.

Artikel ini bertujuan mendeskripsikan praktik pembelajaran yang ditransformasikan melalui prinsip Pembelajaran Mendalam dengan fokus pada kesadaran belajar, relevansi makna, dan iklim kelas yang positif.

 

B. Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teoretis

Pembelajaran Mendalam (Deep Learning): Konsep pembelajaran mendalam berakar pada teori pendekatan belajar yang dikembangkan oleh Ference Marton dan Roger Säljö (1976). Mereka membedakan antara surface learning (belajar permukaan) dan deep learning (belajar mendalam). Belajar mendalam ditandai oleh:

  1. Upaya memahami makna
  2. Menghubungkan konsep dengan struktur pengetahuan yang telah dimiliki
  3. Mengintegrasikan informasi baru ke dalam kerangka berpikir yang lebih luas

Dalam konteks pendidikan kontemporer, pembelajaran mendalam tidak hanya menekankan pemahaman konseptual, tetapi juga refleksi diri dan transfer pengetahuan.

Refleksi dan Guru sebagai Praktisi Reflektif: Konsep reflective practitioner diperkenalkan oleh Donald Schön (1983), yang menekankan pentingnya refleksi dalam praktik profesional. Guru sebagai praktisi reflektif secara sistematis mengevaluasi tindakannya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Refleksi memungkinkan guru:

  1. Mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan praktik
  2. Menyesuaikan strategi berdasarkan respons siswa
  3. Mengembangkan pembelajaran berbasis kebutuhan nyata kelas

Pendekatan ini menjadi landasan metodologis dalam penelitian praktik baik.

Pembelajaran Berkesadaran dan Metakognisi: Teori metakognisi yang dikembangkan oleh John Flavell (1979) menjelaskan bahwa kesadaran terhadap proses berpikir sendiri merupakan faktor kunci dalam keberhasilan belajar. Pembelajaran berkesadaran melibatkan:

  1. Perencanaan strategi belajar
  2. Pemantauan pemahaman
  3. Evaluasi hasil belajar

Penelitian menunjukkan bahwa siswa dengan kemampuan metakognitif yang baik memiliki ketahanan belajar dan transfer pengetahuan yang lebih kuat.

Pembelajaran Bermakna: Konsep belajar bermakna dikemukakan oleh David Ausubel (1968) yang menegaskan bahwa pembelajaran efektif terjadi ketika informasi baru dikaitkan secara substantif dengan struktur kognitif yang telah ada. Prinsip utama pembelajaran bermakna:

  1. Relevansi konteks
  2. Keterkaitan konsep
  3. Integrasi pengetahuan lama dan baru

Pendekatan kontekstual dan problem-based learning mendukung terwujudnya pembelajaran bermakna.

Iklim Kelas dan Motivasi Intrinsik: Teori motivasi Self-Determination Theory yang dikembangkan oleh Edward L. Deci dan Richard M. Ryan (2000) menekankan pentingnya tiga kebutuhan psikologis dasar: otonomi, kompetensi, dan keterhubungan. Iklim kelas yang positif:

  1. Meningkatkan motivasi intrinsik
  2. Mengurangi kecemasan akademik
  3. Mendorong partisipasi aktif

Dengan demikian, aspek “menggembirakan” dalam pembelajaran memiliki dasar psikologis yang kuat.

 

C. Metodologi

  1. Pendekatan penelitian: menggunakan pendekatan kualitatif reflektif (reflective practice). Pendekatan ini menempatkan guru sebagai praktisi-reflektif yang secara sistematis mengkaji, mengevaluasi, dan memperbaiki praktik pembelajaran berdasarkan pengalaman nyata di kelas. Desain penelitian bersifat deskriptif-analitis dengan fokus pada transformasi praktik pembelajaran.
  2. Subjek dan Konteks: subjek penelitian adalah siswa pada satu kelas tingkat SMP dalam satu semester pembelajaran, dan konteks penelitian adalah pembelajaran reguler pada mata pelajaran yang diampu penulis, dengan karakteristik siswa yang heterogen dalam kemampuan akademik dan partisipasi.
  3. Teknik Pengumpulan Data: (1) observasi kelas: mencatat dinamika interaksi, partisipasi siswa, serta iklim pembelajaran; (2) catatan refleksi guru (teacher reflective journal): berisi evaluasi rutin setelah pembelajaran, mencakup kekuatan, kendala, dan rencana perbaikan; (3) dokumentasi asesmen formatif dan sumatif: meliputi hasil tugas, diskusi, kuis, serta umpan balik tertulis; dan (4) refleksi siswa: berupa tanggapan tertulis singkat mengenai pengalaman belajar mereka.
  4. Teknik Analisis Data dengan menggunakan teknik analisis tematik melalui langkah: (1) reduksi data (mengidentifikasi pola perubahan praktik); (2) kategorisasi berdasarkan tiga prinsip Pembelajaran Mendalam; (3) interpretasi dampak terhadap keterlibatan dan pemahaman siswa; dan (4) triangulasi antar-sumber data (observasi, refleksi guru, dan umpan balik siswa). Pendekatan ini memungkinkan interpretasi yang lebih komprehensif terhadap perubahan kualitas pembelajaran.

 

D. Hasil dan Pembahasan

  1. Pembelajaran Berkesadaran: Implementasi tujuan pembelajaran yang eksplisit dan kegiatan refleksi rutin meningkatkan kesadaran belajar siswa. Siswa mulai menunjukkan kemampuan menjelaskan strategi berpikir mereka sendiri (metakognisi). Kesalahan tidak lagi dipandang sebagai kegagalan, melainkan sebagai bagian dari proses belajar. Indikator yang muncul: peningkatan partisipasi diskusi, meningkatnya pertanyaan kritis, dan kemampuan merevisi jawaban berdasarkan umpan balik.
  2. Pembelajaran Bermakna: Penggunaan konteks nyata dan problem-based learning meningkatkan keterkaitan antara konsep dan kehidupan sehari-hari. Siswa mampu mengaitkan materi dengan pengalaman personal dan lingkungan sekitar. Dampak yang teridentifikasi: diskusi lebih argumentatif, penjelasan siswa lebih konseptual, dan tugas menunjukkan pemahaman, bukan sekadar reproduksi informasi.
  3. Pembelajaran Menggembirakan: Perubahan strategi komunikasi dan budaya kelas berdampak pada suasana belajar yang lebih aman. Guru secara konsisten memberikan umpan balik konstruktif dan membuka ruang dialog. Perubahan yang teramati: siswa lebih berani menyampaikan pendapat, penurunan kecemasan saat presentasi, dan interaksi antarsiswa lebih kolaboratif. Iklim positif ini berkorelasi dengan peningkatan motivasi intrinsik dan keterlibatan aktif.

 

E. Kesimpulan

Transformasi praktik pembelajaran menunjukkan bahwa pendekatan berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan secara teoretis dan empiris meningkatkan kualitas proses belajar. Data kuantitatif tetap penting sebagai alat ukur, namun kualitas pembelajaran yang sejati tercermin dalam:

  1. Kedalaman pemahaman
  2. Kesadaran belajar
  3. Motivasi intrinsik
  4. Iklim kelas yang suportif

Integrasi teori dan praktik ini memperkuat argumentasi bahwa pembelajaran mendalam bukan sekadar pendekatan pedagogis, melainkan paradigma pendidikan yang lebih humanistik dan komprehensif.

 

Daftar Pustaka:

Ausubel, D. P. (1968). Educational psychology: A cognitive view. Holt, Rinehart & Winston.

Deci, E. L., & Ryan, R. M. (2000). The “what” and “why” of goal pursuits: Human needs and the self-determination of behavior. Psychological Inquiry, 11(4), 227–268.

Flavell, J. H. (1979). Metacognition and cognitive monitoring. American Psychologist, 34(10), 906–911.

Marton, F., & Säljö, R. (1976). On qualitative differences in learning. British Journal of Educational Psychology, 46, 4–11.

Schön, D. A. (1983). The reflective practitioner. Basic Books.

 

Red @ by Sty

KOMENTARI TULISAN INI

  1. TULISAN TERKAIT