Abstrak
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan transformasi praktik pembelajaran dari orientasi kuantitatif menuju pendekatan Pembelajaran Mendalam yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Menggunakan pendekatan kualitatif reflektif berbasis praktik (reflective practice), data dikumpulkan melalui observasi kelas, jurnal refleksi guru, dokumentasi asesmen, dan umpan balik siswa. Analisis tematik menunjukkan bahwa integrasi kesadaran belajar, konteks bermakna, dan iklim kelas positif meningkatkan keterlibatan serta kedalaman pemahaman siswa. Temuan ini memperkuat pentingnya keseimbangan antara asesmen kuantitatif dan kualitatif dalam meningkatkan mutu pembelajaran.
Kata kunci: pembelajaran mendalam, reflective practice, asesmen formatif, keterlibatan siswa, iklim kelas.
A. Pendahuluan
Pengukuran hasil belajar dalam pendidikan formal umumnya didominasi oleh indikator kuantitatif seperti nilai tes, rerata kelas, dan persentase ketuntasan. Meskipun indikator tersebut penting dalam sistem akuntabilitas pendidikan, pendekatan yang terlalu berorientasi angka berpotensi menyederhanakan kompleksitas proses belajar.
Sejumlah kajian menunjukkan bahwa kualitas pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh hasil kognitif, tetapi juga oleh keterlibatan, motivasi intrinsik, dan kemampuan metakognitif siswa. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang memandang pembelajaran secara lebih komprehensif.
Artikel ini bertujuan mendeskripsikan praktik pembelajaran yang ditransformasikan melalui prinsip Pembelajaran Mendalam dengan fokus pada kesadaran belajar, relevansi makna, dan iklim kelas yang positif.
B. Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teoretis
Pembelajaran Mendalam (Deep Learning): Konsep pembelajaran mendalam berakar pada teori pendekatan belajar yang dikembangkan oleh Ference Marton dan Roger Säljö (1976). Mereka membedakan antara surface learning (belajar permukaan) dan deep learning (belajar mendalam). Belajar mendalam ditandai oleh:
Dalam konteks pendidikan kontemporer, pembelajaran mendalam tidak hanya menekankan pemahaman konseptual, tetapi juga refleksi diri dan transfer pengetahuan.
Refleksi dan Guru sebagai Praktisi Reflektif: Konsep reflective practitioner diperkenalkan oleh Donald Schön (1983), yang menekankan pentingnya refleksi dalam praktik profesional. Guru sebagai praktisi reflektif secara sistematis mengevaluasi tindakannya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Refleksi memungkinkan guru:
Pendekatan ini menjadi landasan metodologis dalam penelitian praktik baik.
Pembelajaran Berkesadaran dan Metakognisi: Teori metakognisi yang dikembangkan oleh John Flavell (1979) menjelaskan bahwa kesadaran terhadap proses berpikir sendiri merupakan faktor kunci dalam keberhasilan belajar. Pembelajaran berkesadaran melibatkan:
Penelitian menunjukkan bahwa siswa dengan kemampuan metakognitif yang baik memiliki ketahanan belajar dan transfer pengetahuan yang lebih kuat.
Pembelajaran Bermakna: Konsep belajar bermakna dikemukakan oleh David Ausubel (1968) yang menegaskan bahwa pembelajaran efektif terjadi ketika informasi baru dikaitkan secara substantif dengan struktur kognitif yang telah ada. Prinsip utama pembelajaran bermakna:
Pendekatan kontekstual dan problem-based learning mendukung terwujudnya pembelajaran bermakna.
Iklim Kelas dan Motivasi Intrinsik: Teori motivasi Self-Determination Theory yang dikembangkan oleh Edward L. Deci dan Richard M. Ryan (2000) menekankan pentingnya tiga kebutuhan psikologis dasar: otonomi, kompetensi, dan keterhubungan. Iklim kelas yang positif:
Dengan demikian, aspek “menggembirakan” dalam pembelajaran memiliki dasar psikologis yang kuat.
C. Metodologi
D. Hasil dan Pembahasan
E. Kesimpulan
Transformasi praktik pembelajaran menunjukkan bahwa pendekatan berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan secara teoretis dan empiris meningkatkan kualitas proses belajar. Data kuantitatif tetap penting sebagai alat ukur, namun kualitas pembelajaran yang sejati tercermin dalam:
Integrasi teori dan praktik ini memperkuat argumentasi bahwa pembelajaran mendalam bukan sekadar pendekatan pedagogis, melainkan paradigma pendidikan yang lebih humanistik dan komprehensif.
Daftar Pustaka:
Ausubel, D. P. (1968). Educational psychology: A cognitive view. Holt, Rinehart & Winston.
Deci, E. L., & Ryan, R. M. (2000). The “what” and “why” of goal pursuits: Human needs and the self-determination of behavior. Psychological Inquiry, 11(4), 227–268.
Flavell, J. H. (1979). Metacognition and cognitive monitoring. American Psychologist, 34(10), 906–911.
Marton, F., & Säljö, R. (1976). On qualitative differences in learning. British Journal of Educational Psychology, 46, 4–11.
Schön, D. A. (1983). The reflective practitioner. Basic Books.
Red @ by Sty
Copyright © 2017 - 2026 SMP NEGERI 1 KALIBAWANG All rights reserved.
Powered by sekolahku.web.id